Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Bawang yang Repotkan Penguasa!

KARENA fluktuasi harganya sering menyulut inflasi, bawang merah merepotkan penguasa yang wajib mengendalikan inflasi. Seperti 29 April 2016, pemerintah rapat di kantor Menko Perekonomian untuk memastikan harga bawang merah sesuai target Presiden Jokowi di bawah Rp25 ribu/kg. (Detiknews, 30/4/2016)

Namun, Detikfinance, Selasa (24/5/2016), melaporkan harga bawang merah di sejumlah pasar tradisional Jakarta tembus di atas Rp40 ribu/kg. Pemerintah pun memutuskan untuk mengimpor 2.500 ton bawang merah. Kenapa bawang merah begitu binal, tak mau taat pada maunya penguasa, bahkan target harga yang ditetapkan Presiden? Jawabnya, karena kemauan penguasa itu kurang realistis. 

Ketua Dewan Bawang Nasional Amin Kartiawan Danovan menyatakan kalau pemerintah maunya harga bawang murah, sebaliknya petani bawang merah mengeluhkan mahalnya bibit dan biaya bertanam bawang merah. Tutur Amin, harga bibit jenis Bima Brebes saat ini dijual Rp42 ribu—Rp50 ribu/kg. Bibit jenis lainnya, bibit Thailand Nganjuk, dipatok di pasaran Rp32 ribu—Rp35 ribu/kg. 

Dengan harga yang berlaku saat ini, menurut Amin, pengadaan bibit berkontribusi sebesar 40%—50% dari ongkos produksi penanaman bawang merah. "Seluas 1 hektare tanam bawang habis sekitar Rp60 juta. Itu 40%—50% habis buat pengadaan bibitnya," tegas Amin. 

Karena itu, Amin tidak setuju pemerintah impor bawang merah. "Panen puncak sudah mulai. Daripada impor bawangnya, lebih baik impor bibitnya. Memang harusnya itu yang diimpor, supaya bantu petani mendapatkan bibit yang murah. Harga bisa ditekan lagi," ujarnya. 

Tapi pemerintah terkesan gugup ketika harga bawang merah di pasar sudah tembus Rp40 ribu/kg, jauh dari target Jokowi. Mereka tak menyimak panen raya sudah dimulai sehingga suplai segera melimpah dan harganya akan turun sendiri. Mereka juga tak berpikir lebih baik impor bibit bawang merah membantu petani agar ke depan kendali harga bawang sudah terlembaga sejak ketersediaan bibit murah. 


Dalam pengendalian di pasar juga mata rantai kendali harga putus, hanya sampai pasar induk. Terbukti, ketika di pasar induk masih di bawah Rp25 ribu/kg, di pasar tradisional tembus di atas Rp40 ribu/kg. Bisa jadi, harga ditentukan pemasok yang mendistribusikan ke pengecer secara konsinyasi—harga ditetapkan jika tak laku barang bisa kembali. 

Banyak sisi masih harus dibenahi dalam pengendalian harga bawang merah untuk bisa mencapai target Presiden Jokowi. Dan, agar tidak ujug-ujug impor! ***

0 komentar: