Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Kontraksi Pertumbuhan Ekonomi!

BPS—Badan Pusat Statistik—melaporkan terjadinya kontraksi atau pelambatan 0,34% pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2016 dibanding kuartal IV 2015 secara quarter to quarter (qtq), juga lebih lambat dari kuartal I 2015 yang melambat 0,23% dari kuartal sebelumnya. 

Sedangkan secara year on year (yoy) kuartal I 2016 tumbuh 4,92%, lebih lambat dari kuartal IV 2015 yang tumbuh 5,04% (yoy). 

"Lebih rendahnya pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2016 terutama disebabkan terbatasnya pertumbuhan konsumsi pemerintah dan investasi," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Tirta Segara. (Kompas.com, 5/5/2016) 

Pelemahan konsumsi pemerintah dipengaruhi pola musiman belanja pemerintah di awal tahun yang masih relatif terbatas, jelas Tirta. Pada saat yang sama, perilaku investor swasta yang masih cenderung menunggu berdampak pada masih lemahnya kegiatan investasi, di tengah upaya mempercepat proyek-proyek infrastruktur pemerintah. 

Namun, kontraksi pertumbuhan ekonomi kuartal I 2016 itu merupakan anomali dari pelonggaran kebijakan moneter yang telah ditempuh secara konsisten lewat menurunkan giro wajib minimum (GWM) primer bertahap dari 8% sebelum 1 Desember 2015 menjadi 6,5% pada 16 Maret 2016. Itu diperkuat lagi dengan penurunan bertahap suku bunga acuan BI dari 7,5% menjadi 6,75%. Dari penurunan GWM primer terakhir saja didapat tambahan dana perbankan sebesar Rp34 triliun. 

Bukan hanya itu, saat bersamaan pemerintah juga meluncurkan serangkai paket kebijakan, hingga mencapai 12 paket. Paket-paket itu berintikan deregulasi untuk mendorong dan memudahkan kegiatan dunia usaha. Namun, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat sepanjang triwulan I 2016 pertumbuhan kredit perbankan melambat. 

"Triwulan I ini pertumbuhan kredit agak melambat karena (triwulan) pertama siklusnya memang seperti itu," ujar Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad. (detikfinance, 4/5/2016)

Jadi, pertumbuhan ekonomi kuartal I dipahami dan dimaklumi bersama bertabiat seperti keledai, meski didorong maju oleh segala kekuatan—pelonggaran kebijakan moneter dan banyak paket kebijakan pemerintah—ternyata malah jalan mundur, mengalami kontraksi. 

Nah, kalau keledai saja yang jika ditarik maju malah mundur itu tidak terporosok di lubang yang sama, para pengelola ekonomi nasional semestinya mencari dan menutup lubang anomalinya agar tidak setiap kuartal I kembali terperosok di lubang yang sama! ***

0 komentar: