Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Anak-Anak Minoritas Dipulangkan!

BARU sehari Donald Trump terpilih menjadi presiden, dampak buruknya sudah dirasakan kaum minoritas. Anak-anak mereka diejek, dilecehkan, dan mengalami intimidasi etnis di sekolah. Mereka pun terpaksa dipulangkan lebih cepat.
Yasmeen Shehab, ibu berusia 40 tahun di New Jersey, mengatakan putri sulungnya yang kini berusia 13 tahun menghubungi dia dari sekolah. "Anak saya bilang, seorang anak laki-laki pendukung Trump di sekolahnya mengejek dan menyebut Trump akan membatasi imigran muslim," ujar Shehab.
"Dia sedang menangis di kantor sekolah saat saya datang menjemputnya," ujar Shehab. "Ini adalah hari yang berat, mereka semua ketakutan," kata dia. Nasib sama dialami anak-anak imigran dan warga minoritas lainnya. (Kompas.com, 10/11/2016)
Sebelum itu, paginya Shehab terperanjat ketika tiba-tiba anak perempuannya berusia 10 tahun melompat ke pelukannya sambil menangis. "Presiden Trump akan melarang kita dan membuat kita meninggalkan Amerika," ujar si putri di sela isak tangisnya. "Ke mana kita akan pergi?" si bocah memeluk ibunya lebih erat.
Shehab dan keluarga muslimnya terlahir di AS, tetapi ketakutan pada ancaman deportasi tetap saja menghantui.
Beberapa bulan dalam kampanye calon presiden AS, Donald Trump seolah telah menjelma menjadi monster bagi warga imigran dan kaum minoritas di AS, dengan retorika kemarahan yang selalu ia dengungkan untuk mendeportasi imigran, membatasi muslim, dan dukungan kaum nasionalis kulit putih.
Baru satu hari saja, dampak buruk terpilihnya Donald Trump sudah dirasakan kaum minoritas. Itu membuat meski dalam pidato kemenangannya Trump bersumpah untuk menjadi presiden bagi semua rakyat Amerika, tidak mampu membendung gelombang demo anti-Trump di seantero Amerika, dari Washington, New York, Chicago, Philadelphia, Boston, Austin di Texas, California, Los Angeles, Seattle, Phoenix, Oakland, Richmond, sampai El Carrito.
Seperti dilansir Reuters dan AFP (10/11/2016), mereka yang ikut aksi protes ini ketakutan soal masa depan AS di bawah Trump. Demonstran memprotes retorika Trump soal imigran, warga muslim, dan minoritas lainnya.
"Orang-orang ketakutan. Kami ada di sini karena dalam momen terkelam seperti ini, kami tidak sendiri," ujar Ben Wilker, koordinator unjuk rasa dari kelompok advokat liberal MoveOn.org.
Demo yang meluas di seantero negeri itu perlu pembuktian nyata retorika Trump saat pidato kemenangan, "Inilah saatnya bagi kita untuk bersama-sama menjadi rakyat yang bersatu."
Ujian pertama Trump. ***

0 komentar: