Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Buatlah Film Kebiadaban PKI 1948!

JIKA ingin membuat film baru mengenai fakta kebiadaban PKI, semestinya ceritanya tentang pemberontakan PKI 1948 yang membunuh banyak kiai pondok pesantren dan santrinya, tokoh masyarakat, dan pejabat pemerintah. Jasad mereka dimasukkan sumur-sumur tua di Magetan dan Madiun, Jawa Timur, malah ada yang dimasukkan hidup-hidup.

Bukan berarti film pengkhianatan G30S/PKI 1965 tidak penting. Melainkan, film karya Arifin C Noor yang sudah ada tersebut bukan saja telah cukup memadai, ceritanya juga diyakini berdasar fakta yang akurat, sedang dari segi artistik tak mudah mencari sutradara masa kini untuk menandinginya. Apalagi kalau mau dibuat versi baru, ceritanya mungkin bisa kontroversial, menyulut konflik baru.
Kisah pemberontakan PKI 1948 selama ini relatif terpendam, kurang diketahui generasi kelahiran 1950-an sampai Abad 21 ini. Memang setiap 1 Oktober dibuat acara Hari Kesaktian Pancasila di monumen bekas sumur tempat para korban keganasan PKI ditemukan, tetapi gaungnya terbatas. Padahal, fakta kebiadaban PKI terhadap para kiai, santri, tokoh masyarakat, dan pejabat pemerintah waktu itu perlu jadi pengetahuan segenap warga bangsa Indonesia lintas generasi.
Sama halnya dengan film pengkhianatan G30S/PKI 1965, intro film ini juga dibuat dengan suasana hari-hari menjelang Pemimpin PKI Muso dan Amir Syarifuddin memaklumkan berdirinya negara Republik Soviet Indonesia 18 September 1948, PKI telah menebar teror ke pesantren-pesantren di sekitar Madiun dan Magetan. Seperti seusai salat jumat pada 17 September 1948, tokoh PKI Suhud dan Ilyas alias Sipit mendatangi Pesantren Sabilil Muttaqin di Takeran, Magetan, dan membawa pergi pimpinannya, Kiai Imam Mursyid.
Selain Kiai Imam Mursyid, dari Pesantren Takeran PKI menculik sejumlah kiai pengajar pondok tersebut, Imam Faham, Kiai Muhammad Noer, Ustaz Ahmad Baedawy, Muhammad Maidjo, Rofi'i, Tjiptomartono, Kadimin, Reksosiswoyo, Husein, Hartono, dan Hadi Addaba. Yang terakhir ini guru pesantren yang didatangkan dari Al Azhar, Mesir. Saat itu Pesantren Takeran terkenal, muridnya datang berbagai daerah termasuk luar Jawa (JejakIslam.net, 3/10/2016).
 Aksi serupa dilakukan PKI masif di pesantren wilayah Keresidenan Madiun, bahkan KH Imam Sofwan dari Pesantren Kebonsari, Madiun, melantunkan suara azan dari dalam sumur saat dieksekusi. Jasad para kiai itu kemudian ditemukan dalam sejumlah sumur bersama jenazah pejabat pemerintah dan tokoh-tokoh masyarakat. ***

0 komentar: