Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Sebesar-besar Kemakmuran Rakyat itu Apa?

"DALAM Sarasehan Anak Negeri (Metro TV, 12-4) seorang anggota DPR ngotot 'sebesar-besarnya kemakmuran rakyat' yang disebut konstitusi tak ada ukurannya!" ujar Umar. "Ia perkirakan MK tak punya standar untuk memutus gugatan Yusril Ihza Mahendra atas APBNP 2012 yang memakai istilah itu sebagai salah satu dasarnya!" "Saya sedih, masak anggota DPR tak tahu ukuran kemakmuran rakyat, apa patokan perjuangannya selama ini?" timpal Amir. "Untunglah mantan Menteri Perekonomian Rizal Ramli menyela, kemakmuran rakyat jelas ukurannya dari berbagai indeks yang tak asing terkait pendidikan, kesehatan, dan gizi! Kalau aneka indeks itu masih jauh dari standar minimal yang harus dicapai, seperti indeks pembangunan manusia (IPM) yang masih di kelompok urutan terbawah bersama negara-negara miskin dunia, berarti kemakmuran masih jauh dari jangkauan, belum terwujud!"

"Belum lagi delapan target Milenium Development Goals (MDG's) yang harus dicapai dalam program pembangunan daerah, sebagai standar minimum kemakmuran yang harus diwujudkan!" tegas Umar. "Jadi, amat naif kalau anggota DPR sampai memaksakan ketidaktahuannya tentang standar kepentingan rakyat yang paling mendasar itu di depan penonton televisi nasional! Rakyat yang nonton acara itu bisa cepat menilai, kalau mau ke mana tujuannya saja dia tak tahu, bagaimana dia bisa membawa rakyat sampai ke tujuan itu?" "Pokoknya memprihatinkan sekali realitas ngotot dan ngeyel-nya wakil rakyat kita yang sering tanpa dasar jelas seperti itu!" timpal Amir. "Itu menyebabkan pembangunan bangsa makin jauh dari tujuan dan cita-cita kemerdekaan karena legislatif sebagai juru mudi tak tahu koordinat tujuannya! Akibatnya, pelayaran nubruk-nubruk, setiap kali rakyat jadi korban kegagalan eksperimen yang dilakukan pemimpin bangsanya!"

 "Eksperimennya pun difokuskan mencari sebesar-besarnya kemakmuran pribadi dan kelompok pemimpin, sampai membutakan diri dari tujuan mencapai sebesar-besarnya kemakmuran rakyat!" tegas Umar. "Itu bisa dilihat dari biasnya kebijakan elite, untuk memakmurkan rakyat harus membangun gedung parlemen yang mencakar langit! Atau untuk menyejahterakan rakyat harus menaikkan harga BBM yang pasti mendongkrak naik harga bahan-bahan kebutuhan pokok rakyat!" "Akibat wakil rakyat kita tak tahu apa itu sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, kekayaan alam kita serahkan dikeruk asing!" timpal Amir. "Indonesia pun dipuji Barat berkat suksesnya mewujudkan sebesar-besarnya kemakmuran asing!" *** Tiser: Akibat tak tahu sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, kekayaan alam dikeruk asing.

0 komentar: