Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Model Pendidikan Maniak Anggaran!

"SEPEKAN lagi Juli, Kurikulum 2013 berlaku!" ujar Umar. "Tapi, belum seorang pun guru dilatih atau mengikuti orientasi pelaksanaan di sekolahnya! Acaranya tak ada disiarkan koran! Berita terakhir akhir Mei, anggaran Kurikulum 2013 disetujui DPR sebesar Rp829,427 miliar--Rp500 miliar untuk penataran guru!" "Kesiapan pelaksanaannya oleh sekolah, guru, maupun perantinya, modul-modul silabus dan buku yang sesuai kurikulum baru itu, urusan belakangan!" timpal Amir. 

"Karena terpenting sebagai prioritas utama adalah anggarannya! Ya, anggarannya! Soalnya para pimpinan negeri ini, baik instansi pemerintah maupun politisi sedang terkena wabah mania anggaran! Nyaris dalam segala hal, dari BBM subsidi sampai pilgub, prioritas masalahnya pada anggaran! Para pemimpin adu argumen soal anggaran!"

"Konon lagi sektor pendidikan yang prioritas anggarannya dijamin konstitusi!" tukas Umar. "Penciptaan alasan menghasilkan anggaran di luar kuota yang telah dijamin UU pun sah-sah saja! Dan anggarannya, seperti kurikulum baru, selalu cair! Sekali lagi, terpenting anggarannya cair! 

Sedang outputnya, mutu pendidikan Indonesia di peringkat 53 dari 55 negara yang disurvei World Competitiveness Index (Kompas, 23-5-2013). Lebih buruk dari sebelum anggaran pendidikan ditetapkan 20 persen dari APBN/APBD, Indonesia di peringkat 39 dari 49 negara yang disurvei!" "Jadi maniak atau bahkan kecanduan anggaran di kalangan pimpinan dunia pendidikan bisa berakibat buruk terhadap output atau mutu pendidikan!" timpal Amir. 

"Hal itu layak dikhawatirkan juga akan terjadi pada implementasi Kurikulum 2013 yang juga terlihat prioritasnya berburu anggarannya dibanding kematangan orientasi pada pelaksanaan kurikulum barunya! Apalagi kalau dilihat dari persiapan untuk penerapan kurikulum baru ini yang tak mengesankan adanya keseriusan di sekolah-sekolah, kekhawatiran itu jadi cukup beralasan!" 

"Kenyataan maniak atau bahkan kecanduan anggaran pada kalangan pimpinan pendidikan nasional itu jelas memprihatinkan, karena ujungnya bisa mengada-ada hanya demi dapat anggaran khusus di luar anggaran reguler!" tegas Umar. "Maniak yang tebukti malah mengorbankan mutu pendidikan!" ***

0 komentar: