Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Revolusi Harmoni Seniman!


"DIPELOPORI grup Slank, lebih 50 musisi dan tokoh seniman bersama lebih dari 100 komunitas di Parkir Timur Senayan, Rabu (11/6), mengikrarkan Revolusi Harmoni!" ujar Umar. "Revolusi Harmoni itu menurut Abdee dari Slank, untuk mendukung Revolusi Mental yang dicanangkan capres-cawapres Jokowi-JK!" (detikcom, 11/6) "

Abdee menegaskan gerakan yang semula sikap mendukung telah bertransformasi menjadi gerakan kemanusiaan karena melihat ada harapan besar buat Indonesia di bawah kepemimpinan Jokowi-JK!" timpal Amir. "Maka, semua pihak termasuk musisi tergerak untuk melakukan sesuatu memastikan harapan itu bisa terwujud."

"Ikrar Revolusi Harmoni para seniman itu terdiri dari tujuh tekad," tegas Umar. 

 "Yakni, 1. Bersumpah untuk tidak akan menggunakan kekerasan. 
2. Selalu bekerja keras dengan cara yang benar dan menjauhi segala bentuk kecurangan. 
3. Bertekad membangun kesetaraan. 
4. Bicara hanya untuk kebenaran. 
5. Selalu mengedepankan dialog yang jujur, terbuka, dan bersahabat. 
6. Menjaga dan merawat alam dan lingkungan. 
7. Meningkatkan potensi manusia untuk kepentingan Indonesia sejahtera. Revolusi Harmoni dimulai dari diri kita sendiri!" 

 "Substansi ikrarnya ternyata prinsip-prinsip humanisme universal, seperti antikekerasan, antikecurangan, dorongan untuk kerja keras dan jujur, menciptakan kesetaraan, mengedepankan dialog, sadar lingkungan, serta mengaktualisasikan potensi manusia!" sambut Amir. 

 "Berarti, Revolusi Harmoni lebih sebagai gerakan kemanusiaan ketimbang gerakan politik! Malah bisa berarti, Revolusi Harmoni membuat track bagi perjuangan politik untuk berjalan di jalur kemanusiaan!" "Itu tersambung dengan relevansi Revolusi Harmoni sebagai pendukung revolusi mental yang merupakan gerakan politik berorientasi pemulihan nilai-nilai kemanusiaan dari destruksinya, terutama oleh korupsi dan kekerasan!" tukas Umar. 

 "Perjuangan mengembalikan manusia pada fitrah akal sehat dan budi pekerti luhur jadi titik temu kedua revolusi!" "Namun, secara kontekstual perjalanan kedua revolusi tidaklah mudah karena keduanya hadir justru saat penyimpangan peradaban sedang berada di puncak kiprahnya, dengan korupsi, fitnah, bahkan kekerasan terhadap minoritas dilakukan seolah tanpa kendali moralitas lagi!" sambut Amir.

 "Tak ayal, kedua revolusi secara saksama masuk arena pengujian, kawah candradimuka, melawan simpul disharmoni peradaban yang menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan!" ***

0 komentar: