Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Partai Radikal Bangkrutkan Yunani!

PARTAI radikal sayap kiri Syriza dipimpin Alexis Tsipras yang menolak syarat dilakukannya reformasi ekonomi hasil rancangan IMF dan kreditor euro sebagai syarat pengucuran dana talangan, memenangi Pemilu Yunani pada 25 Januari 2015.Saat itu Yunani sudah di puncak krisis ekonomi dengan utang pada akhir 2014 mencapai 317 miliar euro, atau sekitar Rp4.650 triliun—175% di atas PDB, melampaui batas toleransi kawasan euro 60%.

 Uniknya, justru janji jalan baru keluar dari krisis akibat sistem kapitalis yang amat tergantung pada utang hingga kemudian terbenam utang itu, menjadikan Syriza pilihan mayoritas rakyat Negeri Zeus. Jalan baru itu jelas, secara ideologis menolak rancangan reformasi ekonomi IMF dan kamerad. Namun, IMF dan para kreditor euro tetap menawarkan dana talangan—juga tetap dengan syaratnya yang ketat—untuk membayar angsuran utang sebesar 1,6 miliar euro yang jatuh tempo Selasa, 7 Juli 2015. Kalau gagal membayar utang yang jatuh tempo itu, Yunani dengan sendirinya mendapat predikat bangkrut.

 Tapi menghadapi jatuh tempo itu, Tsipras malah menggelar referendum Minggu, 5 Juli 2015, untuk menentukan berdasar pilihan rakyat apakah setuju menerima dana talangan dengan syarat ketat untuk membayar utang yang jatuh tempo atau menolaknya. Untuk itu, Tsipras dan mesin politiknya kampanye agar rakyat memilih menolak dalam referendum. Sebab itu, menolak pun memenangi referendum, dan Yunani dinyatakan bangkrut! Luar biasa! Rakyat Yunani memilih menolak dan siap dengan konsekuensi negaranya dinyatakan bangkrut, padahal pada Minggu itu bank-bank di Yunani kehabisan uang untuk melayani penarikan melalui ATM. 

 Apa yang melatarbelakangi pilihan “gila banget” itu? Pertama, cengkeraman syarat-syarat kapitalis yang mengutangi dari 2010—2014 sebesar 240 miliar euro atau Rp3.500 triliun itu malah menjerat mereka dalam krisis yang makin dalam. Sedang jalan baru sosialis Tsipras dalam 100 hari memerintah bisa mengurangi utang dari total akhir 2014 sebesar 317 miliar euro, pada Maret 2015 menjadi 312,7 miliar euro (Kompas.com, 5/7).

 Kedua, warga negeri asal para filsuf agung—Socrates, Plato, Aristoteles—itu sampai pada kesimpulan, sistem politik dinasti (dinasti Papandreou, Karamanlis, dan Mitsotakis gantian berkuasa sejak Perang Dunia I) harus direvolusi—dirobohkan untuk dibangun sistem baru. Jadi, kebangkrutan Yunani itu sebuah proses revolusi. Seperti apa bangunan baru nanti, sejarah yang membuktikan. ***

0 komentar: