Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Inflasi Perdesaan di Atas Nasional!

PERDESAAN, tempat mayoritas warga miskin, selalu didera inflasi lebih tinggi dari inflasi nasional. Pada Maret 2016, inflasi perdesaan 0,95%, sedang inflasi nasional 0,19%. Januari-Desember 2015 inflasi perdesaan 4,28%, dibanding inflasi nasional 3,35%.

Itu berarti daya beli warga desa yang rendah harus menanggung beban kemahalan lebih berat. Lebih parah, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) kenaikan inflasi perdesaan ini indeks tertingginya terjadi pada kelompok bahan makanan, sebesar 1,88%. Pertanda warga miskin desa tambah berat untuk bertahan hidup. 

Menurut Kepala BPS Suryamin, inflasi perdesaan yang tinggi menekan daya beli petani sehingga nilai tukar petani (NTP) pada Maret 2016 turun 0,89% menjadi 101,32 dari 102,23 pada Februari 2016. Penurunan daya beli petani terjadi di semua subsektor kecuali hortikultura yang naik 0,58%. (Kompas.com, 1/4/2016)

"Barang yang diproduksi (petani) banyak. Tapi petani membeli barang-barang untuk kebutuhan hidup dan proses produksi dengan harga agak tinggi," jelas Suryamin. Sebagian besar barang yang dikonsumsi petani didatangkan dari kota, produk UMKM maupun industri besar. Beberapa barang asal impor. 

Suryamin menyatakan, inflasi perdesaan perlu dikontrol karena berpengaruh terhadap angka kemiskinan. Itu disebabkan banyak warga miskin tinggal di perdesaan. 

Inflasi perdesaan juga menggerus kenaikan upah buruh tani. Catatan BPS, upah buruh tani secara riil turun, dari Rp37.586 per hari pada Desember menjadi Rp37.372 per hari pada Januari 2016. 

Ekonom Didiek J. Rachbini dikutip Kompas.com (2/4/2016) mengatakan, selalu lebih tingginya inflasi perdesaan dibanding inflasi nasional lantaran harga barang-barang di perdesaan sangat terpengaruh infrastruktur. Infrastruktur sangat penting untuk memperlancar arus barang antardaerah, antardesa. Inflasi perdesaan lebih tinggi dari nasional itu indikasi infrastruktur antardesa, antarwilayah harus terus diperbaiki. 

Tampak, tingkat inflasi perdesaan bisa menjadi petunjuk sejauh mana sukses pembangunan infrastruktur. Betapa, infrastruktur yang buruk mengakibatkan kurang efisiennya distrubusi perdagangan antardaerah. Ketidakefisienan itu harus dibayar mahal warga desa, semakin jauh pelosok pedalaman lokasi desanya, semakin mahal harga barang harus dibayar. 

Tol laut pun, kata Didiek Rachbini, hanya menjangkau pesisir. Inflasi perdesaan yang selalu lebih tinggi dari nasional menyingkap, infrastruktur pelosok pedalaman mendesak untuk diperbaiki. ***

0 komentar: