Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

AS-Rusia di Era Baru Perang Suriah!

PERANG Suriah memasuki era baru. Melalui perundingan Amerika Serikat (AS) dengan Rusia di Genewa, Swiss, militer rezim Bashar Al-Assad yang didukung Rusia gencatan senjata dengan pasukan oposisi moderat yang didukung AS mulai Senin (12/9/2016). Selanjutnya, AS dan Rusia bergabung memerangi ISIS dan Front Fateh Al-Sham, sayap Al Qaeda di Suriah.
Perubahan ini terjadi setelah Menlu AS John Kerry dan Menlu Rusia Sergei Lavrov mencapai kesepakatan dalam perundingan di Swiss. Kesepakatan ini diharapkan membawa perdamaian sejati di negara yang telah lima tahun perang saudara menewaskan lebih 290 ribu orang dan 11 juta orang mengungsi. (Kompas.com, 11/9/2016)
Sebelum munculnya ISIS dan Front Fateh Al-Sam, perang saudara di Suriah berlangsung antara pasukan rezim Bashar Al-Assad dengan milisi oposisi moderat yang pemerintah sebut pemberontak. Dengan gencatan senjata itu, berarti pasukan rezim Al-Assad yang selama ini memerangi semuanya, jadi tinggal memerangi ISIS dan sayap Al Qaeda.
Meski dengan gencatan senjata pasukan rezim Al-Assad diringankan, dendamnya pada milisi oposisi amat mendalam. Hingga, meski Jumat sudah diumumkan gencatan senjata berlaku mulai Senin, hari Sabtu pasukan pemerintah justru melakukan serangan besar-besaran ke daerah-daerah yang dikuasai oposisi, menewaskan sedikitnya 105 orang.
Serangan udara itu menyasar pasar di Provinsi Idib menewaskan 60 orang. Di Provinsi Aleppo 45 orang tewas, menyasar Kota Anadan dan Hreitan, dekat Aleppo, kota terbesar kedua di Suriah, lapor Organisasi Pemantau Hak Asasi Manusia Suriah (SOHR).
Dalam kerja sama itu, AS dan Rusia akan membentuk Joint Implementation Center (JIC) untuk memerangi ISIS dan Front Fateh Al-Sham. Turki dan Uni Eropa menyambut baik perkembangan baru di Suriah itu. Namun, mereka memperingatkan masih dibutuhkan aksi lebih lanjut.
Aksi dimaksud, menindaklanjuti dengan upaya bantuan mendukung kepatuhan, baik dari rezim Al-Assad maupun oposisi, untuk memenuhi kewajiban mereka. Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Federica Mogherini melihat skema (bantuan) tersebut bisa membuka jalan bagi suatu transisi politik.
Hanya jika gencatan senjata ditindaklanjuti dengan rekonsiliasi nasional di kalangan sesama warga Suriah yang bertikai, khususnya kubu pemerintah dan oposisi, masa depan Suriah damai bisa terbayang. Kalau rakyat Suriah kembali bersatu, atas dukungan kekuatan internasional, ISIS dan sayap Al Qaeda lebih mungkin diusir. ***

0 komentar: