Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Senin, 21 Maret 2011 BURAS Tiada Lagi Maaf Bagimu, Khadafi! H. Bambang Eka Wijaya "BRUTALITY, itu kata kunci pernyataan Presiden AS Obama, Perdana M

"BRUTALITY, itu kata kunci pernyataan Presiden AS Obama, Perdana Menteri Inggris Cameron, dan Presiden Prancis Sarkozy, buat serangan ketiga negara itu ke Tripoli Sabtu malam!" ujar Umar. "Kebrutalan dimaksud kekejaman rezim Khadafi yang tidak seketika dihentikan setelah DK PBB mengeluarkan resolusi all necessary measures untuk melindungi warga sipil Libya—sebaliknya, justru lebih gencar! Jadi, serangan lebih cepat dari dugaan eksekusi Resolusi DK PBB itu, bisa juga disebut sebagai penegasan pemimpin tiga negara barat tersebut, tiada lagi maaf bagimu, Khadafi!"

"Tapi salut pada Khadafi yang menerima 112 rudal Tomahawk dari pasukan tiga negara Sabtu malam seakan suntikan adrenalin yang menjadikannya lebih sangar, menegaskan siap perang (waktu) panjang!" sambut Amir. "Ia ancam penyerang, para agresor akan dihancurkan!"

"Juga jadi lebih ganas!" timpal Umar. "Jika akibat serangan udara ke Tripoli warga sipil yang tewas 48 orang, CNN mengutip AFP menyebut serbuan pasukan Khadafi ke kota terbesar kedua Libia, Benghazi, sejak resolusi DK PBB hingga Minggu menewaskan warga sipil 94 orang! Khadafi unggul jumlah untuk warga sipil yang dibantai!"

"Tapi mungkinkah eksekusi resolusi SK PBB oleh Sekutu Barat mencapai target seperti disebut Menlu Hillary Clinton, Khadafi lengser dan angkat kaki dari Libya—hingga Israel menawarkan suaka buat Khadafi selama di pengasingan?" tanya Amir. "Realitasnya, sekutu bisa secara empuk melakukan serangan pertama dengan klaim pertahanan udara Libya 'severaly disable'—nyaris lumpuh! Beda

serangan pertama ke Irak pada Perang Teluk I atau II, kesiapan sejumlah kapal induk dan massifnya pesawat penyerang!"

"Dibanding Perang Teluk, konflik Libya ini bagi sekutu terkesan no big deal! Di Perang Teluk, sebelum serangan pertama 18 negara siap di garis depan!" jawab Umar. "Tapi justru karena itu, sulit memprediksi akhir konflik Libya! Seberapa lama Khadafi mampu bertahan, salah satu penentunya! Itu tergantung berapa besar ia rela membongkar simpanannya untuk membeli mesin perang terus-menerus, atau menikmati tumpukan jarahan itu di pengasingan seperti rezim tumbang lazimnya!"

"Berarti tergantung keluarga Khadafi yang telah 40 tahun menguasai semua sektor perekonomian negaranya, hingga dengan ekspor minyak 1,6 juta barel per hari, 2/3 dari 6,5 juta rakyatnya hidup di bawah garis kemiskinan!" timpal Amir. "Sebab, selain tentara bayaran (asing) yang ada harus dipertahankan, mayoritas rakyat yang miskin juga siap membela Khadafi asal bayarannya besar!" ***


0 komentar: