Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Sindrom Politik Angin Duduk!


"SETIAP musim cuaca buruk tiba, hujan diiringi angin tidak menentu, Paman minta dikerokin karena dada dan ulu hatinya sakit!" ujar Umar. "Ia sebut penyakitnya musiman itu angin duduk!" "Pemerintah dan anggota parlemen kita juga, penyakit angin duduknya kambuh setiap menghadapi pemilu!" timpal Amir. 

"Angin duduk itu penyakit yang berulang pada kasus sama terkait UU yang sama! Mahkamah Konstitusi (MK), pada 2009, membatalkan sejumlah Pasal UU No. 10/2008 tentang Pemilu, yang membatasi penyiaran hasil survei dan penghitungan cepat (quick count). Namun, menjelang Pemilu 2014, mereka masukkan lagi isi sejenis pasal yang telah dibatalkan MK itu ke UU Pemilu baru, No. 8/2012! Jelas, dibatalkan MK lagi!"

"Itu betul-betul sindrom politik angin duduk!" sambut Umar. "Ternyata kalangan pemerintah dan parlemen cara berpikirnya masih tradisional, angin duduk itu hanya penyakit biasa yang cukup dengan kerokan buat menyembuhkannya! Sidang MK pun mereka anggap cuma sekelas kerokan!" "Padahal, dalam kedokteran modern apa yang lazim disebut angin duduk itu penyakit mematikan—waktunya hanya 15 sampai 30 menit!" tukas Amir. 

"Menurut guru besar FKUI Teguh Santoso (Kompas.com, 5/4), gejala yang sering disebut angin duduk itu sebenarnya sindrom serangan jantung koroner akut (SSJKA). Meskipun lewat kerokan bisa dikurangi gejalanya, tidak sedikit berakhir fatal!" 

"Tidak kalah serius bahaya sindrom politik angin duduk! Pemerintah yang sama (era Pemilu 2009 dan 2014) dan parlemen yang mayoritas orangnya sama, mengulang kesalahan sama secara priodik!" entak Umar. "Betapa bangsa dan negara mereka bawa hanya berputar-putar di lingkaran setan yang sama! 

Kenyataan demikian jelas berbahaya, bangsa-bangsa lain terus melangkah maju, sedangkan kita oleh pemerintah dan parlemen dibuat berputar terduduk dengan penyakit yang sama!" "Paling menyedihkan, survei dan hitung cepat terkait hasil pemilu itu cerminan kemajuan demokrasi dalam akomodasinya terhadap ilmu pengetahuan!" timpal Amir. 

"Melalui orientasi pada ilmu pengetahuan yang tidak henti berproses memperbarui diri itu, politikus dan birokrat juga bisa senantiasa ikut terbarukan pandangan dan cara berpikirnya! Sebaliknya, mereka yang menutup diri dari kemajuan ilmu pengetahuan, seperti bercokol dalam sindrom politik angin duduk, bisa terjebak dalam lingkaran setan yang sama dari pemilu ke pemilu!" *

0 komentar: