Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Menteri Boleh Baru, Birokrasinya Lama!




MINGGU ceria kakek memenuhi janji membawa cucu ke desa untuk naik gerobak sapi. Cucu heran, pemilik gerobak mengizinkan kakek membawa sendiri gerobak dan sapinya! "Kakek dulu sais gerobak sapi!" jelas kakek. 

"Apa bedanya dengan nyetir mobil?" kejar cucu. "Mobil punya pengatur kekuatan sesuai dengan beban dan kondisi jalan, persneling satu, dua, seterusnya! Sapi tak punya!" jawab kakek. "Mobil seperti birokrasi modern dengan peranti dan mekanisme percepatan kerja mencapai tujuan pemerintah! Sedang gerobak sapi mirip birokrasi tradisional, tak punya peranti percepatan! Birokrasi tradisional justru memperlambat untuk mencapai tujuan sendiri—tak selalu sejalan tujuan pemerintah!"


"Jadi, menteri itu sopir atau sais?" tanya cucu. "Semula dikira birokrasi kita modern, punya peranti percepatan seperti mobil!" jelas kakek. "Setelah dua KIB gagal mencapai tujuan baru disadari, birokrasi kita masih tradisional, tak punya peranti percepatan! Setiap kementerian pun selayak gerobak sapi harus dipercayakan ke sais—wakil menteri—pengendali birokrasi tradisional!" "Jadi, dengan reshuffle menterinya boleh baru, birokrasinya tetap gerobak sapi yang lama!" entak cucu. 

"Apakah dengan sais khusus wakil menteri, sapinya mampu menarik gerobak yang dimuati beban lebih berat oleh menteri baru yang ingin lebih cepat sampai ke tujuan?" "Kita lihat saja!" jawab kakek. "Tapi berharap gerobak sapi bisa sampai tujuan secepat mobil, tentu berlebihan! Apalagi menteri baru yang ambisius memuati lebih berat beban ke gerobak, bisa-bisa sapinya tak mampu menghela!" "Kenapa birokrasi pemerintahan kita, dari tingkat kementerian sampai daerah bertahan tradisional, seperti gerobak sapi, padahal sudah belasan tahun ada program reformasi birokrasi?" tanya cucu. "Apa penghambatnya?" 

"Hambatan utamanya budaya ambtenaar—gaya birokrat warisan Belanda yang tak mudah diubah!" jawab kakek. "Amtenar selalu merasa sebenang lebih tinggi kastanya dari rakyat, hingga berasumsi lebih berhak untuk dilayani oleh rakyat daripada menjadi pelayan rakyat sebagaimana dituntut birokrasi modern! Semangat amtenar itu masih ditopang mentalitas penjajah yang pakaian dan tangannya harus serbabersih—bukan kelas pekerja keras! 

"Pada birokrasi model lama itulah menteri baru menggantungkan harapan sukses!" timpal cucu. "Keandalan wakil menteri sebagai sais jua yang akhirnya menjadi tumpuan!" ***

0 komentar: