Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Pelukis Angkuh Salahkan Turis!


DIBERI tahu pelukis yang terkenal angkuh akan berkunjung, juragan souvenir shop—tempat para pelukis menitip lukisan untuk dijual—menyuruh pekerja tokonya menyimpan di gudang semua lukisan dari pelukis lain, dan hanya memajang lukisan karya pelukis angkuh tersebut.


Dengan wajah mendongak terus sejak turun dari mobil hingga terlihat benar angkuhnya, si pelukis disambut juragan dengan membawanya masuk dan keliling tokonya.



"Kurasa galeri Anda yang terbaik di negeri ini!" ujarnya memuji juragan, puas melihat hanya lukisan karyanya yang dipajang di situ. "Tetapi, mana lukisan para pelukis lain?" ia tanya juragan.

"Karya pelukis lain?" sambut juragan. "Lukisan para pelukis lain semuanya habis terjual!"
Telinga pelukis tersengat jawaban juragan, wajah merah padam seperti baru kena tampar. Dengan menurunkan dagunya yang tegang ke atas sejak tadi, ia tanya juragan, "Pembelinya siapa?"



"Secara umum pembelinya turis!" jawab juragan.
"Pantas! Bukan kolektor atau maesenas!" timpal pelukis. "Turis suka gambar pemandangan, bukan lukisan karya seni serius seperti karya saya! Turis tak membaca tulisan kritikus di majalah seni!"
"Saya melanggani sejumlah majalah seni, tapi belum pernah membaca tulisan kritikus tentang lukisan Anda!" tohok juragan.


"Berarti kita melanggani majalah yang berbeda!" tegas pelukis. "Saya juga merasa aneh saat Anda sebut pembeli lukisan di sini para turis, padahal di banyak majalah turisme luar negeri yang kubaca tak pernah ada promosi atau tulisan tentang turisme Lampung, padahal sudah sejak lama setiap tahun ada Festival Krakatau—FK!"

"Coba Anda baca majalah Ambassador, karena setiap FK diundang 17 duta besar!" timpal juragan.



"Ada majalah turisme Ambassador?" kejar pelukis.



"Aku cuma menduga, karena kalau ambasador yang diundang, promosi atau tulisannya ada di majalah yang mewadahi mereka!" jawab juragan. "Tapi sebentar lagi mungkin Anda akan temukan promosi pariwisata Lampung di media turisme internasional, sebab dalam TIME 2011 dua pekan lalu hadir di Lampung 67 tour operator dari negara-negara utama asal turis!"



"Usaha terakhir itu kayaknya lebih tepat sasaran, meski sejauh apa para tour operator terpikat pada objek turis dan pelayanan di sini untuk mereka rekomendasikan ke pelanggan, perlu dicari tahu umpan baliknya!" tegas pelukis. "Jangan sampai pariwisata Lampung seperti lukisanku, sangat indah menurut pemiliknya, tapi sukar dijual!" ***


0 komentar: