Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Militer Mesir Bantai Massa Mursi!

"MILITER Mesir membantai massa Ikhwanul Muslimin (Al Ikhwan) pendukung presiden terguling Muhammad Mursi saat salat subuh Senin (8-7), 51 orang tewas termasuk perempuan dan anak-anak, melukai 435 orang lainnya!" ujar Umar. "Militer berkilah insiden itu terjadi karena sekelompok 'teroris' berusaha menyerbu Markas Garda Republik yang diduga jadi tempat menahan Mursi!" 

"Kudeta militer merebak jadi pertumpahan darah, akhirnya perang saudara!" timpal Amir. "Demokrasi telah mati dengan Mesir kembali di bawah kekuasaan militer, perjuangan panjang rakyat Mesir menjatuhkan rezim militer di bawah Mubarak juga jadi sia-sia! Lebih tragis lagi, kini militer lebih kejam dari rezim terdahulu, tega membantai massa yang sedang salat subuh di Masjid Rabaa al-Adwiya!"

"Aksi massa Al Ikhwan menentang kudeta itu merebak di seantero negeri Mesir!" tegas Umar. "Di Kairo, ratusan ribu orang pendukung Mursi berhimpun di depan Markas Garda Republik, tempat serangan militer itu terjadi!" "Kembalinya kekuasaan militer di Mesir amat memprihatinkan!" tukas Amir. 

"Karena bisa berarti, Mesir kembali pada kendali asing! Bukan rahasia, militer Mesir mendapat bantuan Amerika Serikat 1,3 miliar dolar AS/tahun!" "Pengaruh dan kekuasaan asing cenderung dominan di negara-negara mayoritas Islam yang sedang konflik, seperti Afghanistan, Irak, Suriah, Somalia, dan kini Mesir!" ujar Umar. 

"Itu akibat satu kelompok yang merasa mayoritas atau terkuat ingin berkuasa sendiri, menikmati sendiri hasil perjuangan semua kelompok saat mengusir asing! Misalnya Afghanistan, setelah Soviet angkat kaki, Taliban mau menikmati sendiri hasil perjuangan! Di Irak Sadam Hussein dan Assad di Suriah dengan Partai Bath, lalu Mursi dengan Al Ikhwannya! Pengaruh asing jadi mudah masuk ke sel-sel yang kecewa!" 

"Mungkin karena mereka tak belajar dari tokoh-tokoh ulama Indonesia tentang kesiapan mayoritas mengayomi minoritas, seperti Wahid Hasyim, M. Natsir, dan kawan-kawan yang menghapus kalimat 'kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya' dari preambul konstitusi, hingga kemerdekaan negara menjadi milik semua golongan yang ikut berjuang!" tegas Amir. "Mau berkuasa sendiri, yang tersingkir tak diam menerimanya!" ***

0 komentar: