Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Duterte Putar Haluan ke Tiongkok!

PRESIDEN Filipina Rodrigo Duterte memutar haluan politik negaranya dari sekutu Amerika Serikat (AS) yang demokratis liberal berubah arah ke Tiongkok yang komunis.
Hal itu Duterte lakukan akibat kecewa pada Amerika Serikat (AS) yang tidak setuju dengan tindakannya "menghukum mati" lebih 3.000 orang terduga bandar dan pemakai narkoba di negerinya tanpa proses pengadilan. Saking kesalnya, Duterte pernah menyebut Presiden AS Barack Obama sebagai "anak jalang".
Sebaliknya Tiongkok, melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri Geng Shuang, menyatakan pemerintahnya memahami dan mendukung perang terhadap narkoba Presiden Duterte. "Kami memahami dan mendukung kebijakan Filipina untuk memerangi obat di bawah kepemimpinan Presiden Duterte," ujar Shuang dikutip The Straits Times. (Tempo.co, 15/10/20916)
Realitasnya, pada kunjungannya ke Tiongkok 20 Oktober 2016, Duterte menegaskan negaranya telah mencabut dukungan dan kerja sama dengan AS, dan mendukung penuh Tiongkok. "Di tempat ini, saya umumkan perpisahan saya dari AS," kata Duterte di forum bisnis Tiongkok, disaksikan Wakil Perdana Menteri Zhang Gaoli. Seperti dikutip Reuters, Duterte menyatakan dukungan secara langsung kepada Tiongkok. (Tempo.co, 20/10/2016)
Duterte mengatakan negaranya telah mencabut dukungan kerja sama dalam segala hal. Mulai dari bidang militer, sosial, dan kerja sama ekonomi. Dia juga memastikan bakal mendukung Tiongkok untuk menyelesaikan sengketa perbatasan di Laut Tiongkok Selatan.
Klaim Tiongkok atas wilayah Laut Tiongkok Selatan dibatalkan mahkamah internasional di Den Haag atas gugatan Pemerintah Filipina, pendahulu Duterte. Kalau maksud Duterte itu mendukung klaim Tiongkok atas Laut Tiongkok Selatan, berarti Duterte mengorbankan wilayah kedaulatan negerinya yang telah dimenangkan oleh mahkamah internasional demi bergabung ke kubu komunis.
Terkait ideologi itu, Duterte serius, "Saya sudah sesuaikan dengan ideologi dan mungkin saya juga akan pergi ke Rusia untuk bicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan mengatakan kepadanya bahwa ada kita bertiga di dunia, yakni Tiongkok, Filipina, dan Rusia."
Terakhir pada kunjungan ke Jepang (26/10/2016), Duterte mengaku ingin pasukan AS keluar dari wilayah Filipina dalam dua tahun. Namun, beberapa jam kemudian, Menlu Filipina Perfecto Yasay berusaha menenangkan sekutu lama mereka, "Tidak ada alasan saat ini untuk mengakhiri perjanjian kami karena kepentingan nasional kami." (Tempo.co, 27/10/2016)
Duterte, berputar di bundaran jalan! ***

0 komentar: