Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Mengejar Ketertinggalan dalam TIK!

DI balik kemerosotan daya saing global RI tahun ini ke peringkat 41 dari peringkat 37 tahun sebelumnya, World Economic Forum (WEF) juga mencatat kemerosotan kesiapan teknologi informasi komunikasi (TIK) Indonesia ke peringkat 91 global dari tahun sebelumnya di peringkat 85, dengan kecepatan internet di peringkat 112.
WEF menilai penetrasi TIK Indonesia masih rendah karena hanya seperlima dari populasi penduduk Indonesia yang menggunakan internet, dan satu jaringan pita lebar digunakan oleh sekitar 100 orang. (Kompas, 3/10/2016)
Menurut riset Akamai Technologies Incorporation "State of Internet Report Q2 2016", rata-rata kecepatan berinternet di Indonesia adalah 5,9 megabyte per detik (Mbps) pada triwulan II 2016. Di kawasan Asia-Pasifik, rata-rata kecepatan berinternet yang lebih tinggi dari Indonesia meliputi antara lain Korea Selatan (27 Mbps), Jongkong (19,5 Mbps), Singapura (17,2 Mbps), dan Thailand (13,7 Mbps).
"Saat ini akses data internet sudah menjadi kebutuhan pokok seperti listrik dan air bersih. Oleh sebab itu, perusahaan-perusahaan telekomunikasi harus menyediakan porsi sambungan data internet dengan harga murah," ujar Kahlil Rowter, kepala ekonom PT Danareksa Sekuritas.
Ketertinggalan Indonesia dengan peringkat global demikian jauh cukup mengherankan. Sebab, Indonesia sejak medio awal 1970-an sudah meluncurkan Satelit Palapa sebagai keunggulan TIK mendahului negara-negara lain di Asia-Pasifik.
Lebih lagi, hal itu terjadi dalam persaingan bebas, tidak ada monopoli usaha secara nasional. Telkom dan Telkomsel sebagai BUMN harus bersaing ketat dengan Indosat, XL, dan lain-lain milik asing. Semestinya dalam persaingan terbuka itu dengan modal awal historis pemilik pertama satelit TIK, Telkom dan Telkomsel melesat membawa Indonesia ke peringkat atas persaingan global.
Laporan WEF itu membuktikan sebaliknya. Indonesia kini tertinggal jauh di dunia TIK. Salah satu penyebabnya mungkin karena Telkom dan Telkomsel sebagai BUMN lebih diorientasikan mencari untung agar setorannya signifikan ke APBN, ketimbang orientasinya menghela kemajuan negara-bangsa dalam TIK.
Orientasi cari untung itu seperti dalam penjualan (pulsa) paket data selalu ada varian 4G, meski tak dipakai karena ponsel dan lokasi pemakai belum bisa 4G, saat jadwal paket habis 4G-nya hangus, tidak dikonversi ke bentuk lain dalam lanjutan paket. Keasyikan cari untung dengan cara begitu, lupa mengejar ketertinggalan TIK yang semakin jauh. ***

0 komentar: