Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Pesan Mustofa Bisri buat Jurkam!

SENIN 24 Oktober 2016 jadwal penetapan pasangan calon kepala daerah oleh KPUD dalam Pilkada Serentak 2017. Setelah calon ditetapkan, aturan Pilkada bagi calon pun berlaku. Seiring itu, para juru kampanye (jurkam) baik yang resmi didaftar ke KPU maupun pendukung lepas mulai bekerja mempengaruhi pemilih agar memilih jagonya.
Untuk itu, KH A. Mustofa Bisri menyampaikan pesan nasihat lewat media sosial buat para jurkam dan pendukung calon, cara yang paling baik mempengaruhi orang agar ikut mendukung, ialah dengan menonjolkan kebaikan-kebaikan calon kalian.
Bukan dengan memburuk-burukkan calon pemimpin saingan, pasti akan dibalas dengan hal yang sama. Dan dengan demikian, kedua calon pemimpin akan terlihat buruk semua di mata masyarakat yang hendak kalian pengaruhi.
Apabila masing-masing "menghitamkan" yang lain, siapakah kemudian yang terlihat "putih" untuk dipilih?
Pikirkanlah ini, tegasnya, dan jangan pernah lupa bahwa semua calon pemimpin yang sedang bersaing bukanlah orang-orang asing. Mereka semua adalah putra-putri Indonesia yang menginginkan kebaikan Indonesia. Indonesia kita semua.
Demikian nasihat KH Mustofa Bisri, diakhiri harapan Allah memberi hidayah kepada kita dan melindungi kita semua dari adu-domba setan yang terkutuk.
Alangkah baik nasihat Pak Kiai itu. Tapi masalahnya, sering, kebaikan calon yang diusung sang jurkam masih sedikit. Bukan saja tak layak ditonjolkan, malah nilai maslahatnya bagi masyarakat juga terbatas. Sehingga, kalau yang masih secuil dan kurang berarti nilainya bagi masyarakat itu yang ditonjolkan, hasilnya bisa-bisa malah antiklimaks.
Sebagai kompensasi dari minimnya kebaikan dan hal yang layak ditonjolkan dari jagonya itulah, jurkam dan pendukung si calon lantas mencari-cari kekurangan atau kelemahan pesaing. Ketika terbukti kekurangan dan kelemahan dimaksud minim, hingga kampanye negatifnya kurang menarik, tidak kepalang mereka lalu mengada-ada dengan kampanye hitam memburuk-burukkan lawan dengan hal-hal yang bersifat fitnah.
Usaha terakhir untuk menang ditentukan oleh siapa yang terbesar "perhatiannya" kepada pemilih. Karena hal ini berlangsung masif, panwascam yang cuma segelintir itu sukar mengatasinya. Pernah orang tertangkap sedang bagi-bagi uang, tapi akhirnya jerat hukum lolos dari calon di baliknya, karena namanya tak ada dalam daftar jurkam.
Dengan nasihat KH Mustofa Bisri itu diharapkan cara-cara lama itu ditinggalkan, diganti dengan cara yang elegan dan jujur. ***

0 komentar: